Ngudari Ruwet Renteng

Mencoba memahami kepribadian

Surat Untuk Ayah


Postingan kali ini benar-benar membut saya bingung mencari judul dan menyusun kata-kata awal untuk membuka tulisan ini.Segumpal angan berkecamuk dalam nalar saya,apalagi setelah saya membaca sebah majalah yang membahas tema ”Ayah”.Dalam setiap rangkaian katanya majalah ini benar-benar berhasil meluluh-lentakkan seisi batin saya,terutama setelah saya membaca beberapa bait kata didalamnya,Seakan saya tersadar dengan kalimat :

“Ayah kita memberikan seluruh hidupnya untuk kita,tapi kita membagi sangat sedikit untuk ayah kita.Ayah kita mengorbanan seluruh dirinya untuk kita,dan kita sangat sedikit penghargan untuk dirinya.Kita anak-anaknya,membebani pikiran ayah kita sepanjang waktu,tapi pikiran kita hanya sesekali wktu melintaskan kehadiran ayah kita.” (Dikutip dari tarbawi,Edisi khusus : Ayah punya cara sendiri alam mencintai kita)

Dulu saya belum sadar,nggak sadar atau pura-pura nggak sadar akan perhatian khusus yang diberikan oleh ayah,apa yang ayah korbankan dan segala yang ayah telah lakukan untuk saya.Namun perlahan-lahan saya pun seakan mulai mengerti akan hal-hal yang ayah lakukan tanpa saya tahu,paham dan mengerti maksud dan tujuannya.Saya hanya ber-angan,kesadaran itu seakan terlambat , saya sadar setelah saya jauh dari ayah,padahal jika sedang berada disamping ayah,saya ingin mengungkapkan bahwa saya sangat menyayanginya.Banyak hal yang belum saya ungkapkan,banyak kata yang ingin saya untaikan andaikan saya dekat dengan ayah.

Memang ayah saya hanya seorang petani,yang setiap hari harus merasakan teriknya matahari atau dinginnya guyuran hujan.Dan juga ayah saya hanya seorang pekerja kasar,yang setiap saat harus bermandi peluh,merasakan gemertaknya tulang-tulang saat mengangkat benda-benda berat.Tapi demi menyekolahkan saya,ia tak pernah mengeluh,ia tak pernah memohon belas kasihan.Ia tabah mengumpulkan rupiah demi rupiah untuk membiayai saya mengejar cita-cita.Dengan cintanya,ayah selalu ingin berbuat yang terbaik untuk saya,untuk masa depan saya,untuk kemandirian saya.Bahkan terkadang ia harus mengenyampingkan perhatiannya terhadap keadannya sendiri,mengabaikan kebutuhannya sendiri,asalkan saya bisa tersenyum menapak jalan yang lebih baik.

Seringkali saya meneteskan airmata disaat terkenang memori kebersamaan dengan ayah (jujur) apalagi disaat jauh dengannya.Bukan air mata kesedihan,bukan air mata kesusahan,tapi air mata kebahagiaan dn kebanggaan karena saya memiliki seorang ayah yang……………..   ah,,,,saya nggak bisa jelasin!!!!! (kalimat diatas jujur dari saya,waktu dulu sekolah apalagi saat kemah,jujur saya sering nangis saat sesi renungan malam,tapi nggak ada teman-teman saya yang tahu karena saya selalu memilih tempat yang paling belakang hehehe…….)

Mungkin goresan pena dan rangkaian kata takkan sanggup mengungkapkan rasa ini.Tapi andaikata saat ini saya berada disamping ayah,saya ingin mengungkapkan sesuatu yang selama ini belum sempat terucapkan.Dan hal itu saya rangkai dalam sepotong surat berikut :

“Untuk Ayah  Tecinta”

Ayah mungkin selama ini aku tak pernah mengucapkan terimakasih atas usaha dan kerja kerasmu. Ayah,mungkin aku tak pernah menganggap setiap ucapan dan nasihatmu.Dan mungkin juga aku hanya bisa menyusahkan dan merepotkanmu.Namun kini aku sadar bahwa apa yang kau lakukan itu karena engkau sangat mencintaiku.

Ayah,mungkin dalam setiap bait doaku nama ibulah yang lebih banyak kusebut namun itu bukan karena aku tak menyayangimu,tapi karena telah ada satu tempat khusus untuk doaku yang kulantunkan untukmu.Ayah,mungkin selama ini aku lebih banyak waktu untuk bicara dengan ibu,namun itu bukan berarti ku tak ingin bicara denganmu namun aku lebih suka disaat engkaulah yang bicara padaku,karena dalam setiap perkataanmu itu selalu menuntunku untuk jadi lebih baik.

Tiap kali aku terjatuh,kaulah yang membangunkanku,dan tiap kali aku lupa kaulah yang ingatkanku.Banyak kesalahan yang kulakukan,tapi kau selalu bilang “nggak papa,masih bisa diperbaiki”.  Kesabaran,kebijaksanaan,dan kewibawaanmu itulah yang membuatku selalu ingin menjadi sepertimu,namun jika aku ingin jadi sepertimu kau selalu bilang “jadilah lebih baik dari ayah”.Jikalau kelak aku ada didekatmu,inilah yang ingin aku ungkapkan,yang selama ini mungkin tak pernah kau dengar dariku :

1.      Ayah,andai lautan dapat menampung rasaku,aku ingin ucapkan bahwa seluas itulah aku menyayangimu.

2.      Ayah,aku ingin ucapkan “terimakasih”,karena engkau telah berikan banyak hal,banyak pelajaran,banyak pengorbanan untukku.

3.      Ayah,meskipun kini jarak memisahkan kita,namun bagiku kau tetaplah dekat denganku,disini,didalam lubuk hatiku.

4.      Ayah,maafkan aku,andai apa yang telah kuucap melukai hatimu,andai yang kuperbuat menyayat perasaanmu,andai tindakanku telah membuatmu menahan amarahmu.

5.      Ayah,kini aku tahu,bahwa semua yang telah kau lakukan dahulu hingga sekarang kau ingin selalu memberikan yang terbaik untukku.

Ayah ungkapan dariku mungkin takkan habis hingga sang waktu berhenti berputar.Namun aku cukup bahagia  kini ayah tlah tahu apa yang selama ini aku pendam,dan akhirnya kini tlah aku ungkapkan lewat bait demi bait dalam potongan surat ini.Aku tak ingin ayah menangis kala membaca surat ini,ingatlah ayah,kini aku sedang berusaha untuk menjadi orang seperti ayah ataupun lebih baik daripada ayah.

 

 

 

Salam Sayang!!!

 

Anakmu

Memang benar apa yang saya baca dari majalah tersebut bahwa :

1.       Ucapan ayah mewakili tanggung jawabnya

Yakinlah,ayah selalu bangga pada prestasi anak-anaknya,meski sringkali tak pandai mengapesiasi

2.       Ungkapan ayah mewakili apa yang diyakininya

Percayalah,ayah sangat mengertidan memahami apa yang telah kita capai.Ayah sangat memperhatikan anak-anaknya,meski kita sering tak menyadarinya

3.       Ungkapan ayah mewakili apa yang ingin dicitrakannya

Seolah ayah ingin membangun kesan tertentu di hadapan anak-anaknya.Dalam benak ayah,menangis di depan anak-anaknya dianggap tak cukup pantas bagi seorang kepala keluarga.Seorang pemimpin,dalam konsepsi ayah,adalah orang yang kuat dan tegas

4.       Ungkapan ayah mwakili apa yang ia bisa

Dihari kelulusan kita,atau kesuksesan apapun yang kita raih,ayah kita tersenyum.Ya tersenyum,sungguh pemandangan yang jarang kita lihat,ayah menepuk pundak kita.Tahukah,ayah kita sebenarnya ingin memeluk kita dan ingin mengatakan “Hari ini aku sangat bangga padamu,nak”,Namun tak semua ayah bisa seperti itu.Padahal ayah sudah tak sabar untuk mengabarkan kepada sanak saudara atau teman bahwa anaknya lulus

5.       Ungkapan ayah mewakili apa yang dianggapnya baik untuk kita

Ayah selalu mengingatkan bahwa capaian materi bukanlah segala-galanya.Ia tahu persis kita sedang memetik buah kerja keras selama ini,dan itu sah-sah saja,ia tahu semua itu.Itulah kenapa ia memilih memberikan peringatan dengan caranya sendiri.Sadarkah kita,ungkapan datar ayah itu adalah pelajaran penting tentang bagaimana cara kita memandang dunia.

(Dikutip dari tarbawi,Edisi khusus : Ayah punya cara sendiri alam mencintai kita)

 

4 comments on “Surat Untuk Ayah

  1. suryo susilo
    22 Agustus 2011

    wah ternyata anda pengagum sosok ayah. saya juga respek pada ayah. dan saya tuliskan dalam blog saya. judulnya ‘mengerikan’ monster. yup salam kenal dari saya.

    • mbaheariel
      22 Agustus 2011

      om UL ente mana,,,biar ane bisa berkunjung balik!!!!!!!!

  2. Herizal Alwi
    7 Desember 2011

    Nice words
    :)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: